Artikel

Beranda / Artikel / Menyoal Kasus Narkoba Artis

Menyoal Kasus Narkoba Artis

Kasus Narkoba yang mendera artis kembali disuguhkan kepada kita, terakhir komika Coki Pardede tertangkap tangan membawa narkoba jenis sabu seberat 0,5 gram di apartemennya. Coki kemudian diberi status tersangka dan dibawa ke Polda Metro jaya untuk dilakukan pemeriksaan. Setelah beberapa hari, muncul kabar bahwa kasus Coki tidak jadi dilanjutkan ke ranah hukum, melainkan hanya cukup dilakukan rehabilitasi di RSKO Cibubur.

Kasus di atas tentu juga banyak terjadi di kalangan artis dimana mereka kedapatan membawa narkoba dan juga terbukti mengkonsumsi narkoba, tetapi sanksi kepada para artis tersebut rata-rata rendah dibawah 1,5 tahun dan banyak juga yang hanya cukup dilakukan dengan rehabilitasi 6 bulan dan kemudian bisa bebas kembali dan menjalani profesinya dengan nyaman kembali sebagai artis.

Hal berbeda jika kita lihat pada penerapan hukuman narkoba pada masyarakat umum terutama kepada warga biasa yang tidak memiliki sumber keuangan yang melimpah. Walaupun kasusnya sama (sama-sama pengguna, bukan pengedar ataupun bandar), dan barang bukti baik jenis dan beratnya juga sama (dibawah 1 gram), tetapi hukumannya sangat berbeda. Dalam pengamatan kami, rata-rata mereka dijatuhi hukuman 5 tahun ke atas, bisa 5, 6 atau 7 tahun.

Disparitas hukuman ini seakan menjadi hal yang biasa terjadi, seolah-olah hukum memang dibedakan berdasarkan kemampuan finansial orangnya. Yang sangat disesalkan adalah masyarakat juga kurang begitu peka sehingga jika dia, atau anggota keluarga atau kenalannya terkena kasus narkoba (status sebagai pengguna, bukan pengedar atau bandar serta barang bukti dibawah 1 gram), kemudian dijatuhi hukuman penjara 5 tahun, pasrah begitu saja tanpa memahami aturan hukum yang seharusnya.

Padahal di dalam UU 35/2009 tentang Narkotika, diatur tentang perbedaan antara pemakai, pengedar, dan bandar narkotika. Konsekuensi hukum dari masing-masing status hukum tersebut juga berbeda-beda. Hukuman untuk pemakai, diatur dalam pasal 127 dengan masa tahanan maksimal 4 tahun penjara, hukuman untuk pengedar dan bandar adalah minimal 4 tahun dan maksimal hukuman mati yang diatur di pasal 112 dan 114.

Tetapi dalam prakteknya, pasal-pasal untuk pengedar dan bandar, sering diberikan kepada pemakai sehingga pemakai yang seharusnya memiliki hak untuk rehabilitasi, kemudian malah dihukum berat dan akhirnya menghabiskan bertahun-tahun hidupnya menderita di penjara.

Hal ini tentunya sangat disayangkan, apalagi jika tersangka atau keluarga tersangka buta hukum dan tidak ada pendampingan dari profesional. Oleh karena itu salah satu layanan kami di Amanah Law Office adalah pendampingan perkara narkotika terutama untuk mendampingi para pemakai narkoba yang diberi pasal pengedar atau bandar.

Layanan pendampingan kami dimulai dari awal saat tertangkap dengan pendampingan di kantor polisi, pendampingan ketika persidangan di Pengadilan Negeri, Banding di Pengadilan Tinggi, sampai Kasasi dan Peninjauan Kembali di MA.

Untuk para pencari keadilan yang menginginkan bantuan pendampingan pengacara profesional dan berpengalaman, bisa wa ke 082139272337